27 /April 2019

ADHITLAN Launching Buku BLUE CARBON DAN PERUBAHAN IKLIM di Manado

      Pemanasan global yang kita rasakan merupakan pemicu dari perubahan iklim saat ini. Bencana global yang bukan hanya dirasakan oleh beberapa wilayah saja, namun seluruh wilayah, tak terkecuali di Manado. Perubahan iklim terus menjadi sorotan utama khususnya bagi daerah berdampak bencana. Kurangnya pemahaman tentang perubahan iklim dan upaya mitigasi dan adaptasi di daerah-daerah Indonesia menjadikan pengurangan emisi karbon sulit dilakukan. Kota sebagai sumber pembuangan emisi karbon terbesar kedua setelah industri, berperan besar dalam terjadinya fenomena perubahan iklim tersebut.

Berangkat dari isu tersebut ADHITLAN yang di sponsori oleh FNF Indonesia mengadakan seminar dan book launching di Kota Manado dengan tujuan untuk mensosialisasikan pemahaman tentang Perubahan Iklim dan Blue Carbon. Indonesia telah kehilangan lebih dari seperempat luas hutan bakau dalam tiga dekade terakhir. Bahkan tiap tahunnya kita bisa kehilangan puluhan ribu hektar area Blue Carbon.


ADHITLAN sebagai penulis buku “Blue Carbon dan Perubahan Iklim” mengungkapkan bahwa: “Daerah pesisir di Indonesia sangat luas sehingga menjadi lahan yang cocok untuk mengelola Blue Carbon. Pengelolaan Blue Carbon di Indonesia diyakini akan mampu mempercepat target penurunan emisi karbon sesuai dengan NDC (Nationally Determined Contributions) Indonesia dan target penurunan emisi Indonesia bisa lebih maksimal dari 29 persen pada tahun 2030 nanti. 


Berbeda dengan ekosistem daratan yang cenderung akan rusak dan kembali melepaskan karbon, ekosistem pesisir justru mampu menyerap dan menyimpan karbon dalam sendimen secara terus-menerus dalam kurun waktu yang lama, bila dikelola dengan baik. Terdapat tiga ekosistem yang berpotensi sebagai Blue Carbon, yaitu Mangrove, Padang Lamun, dan Rawa Payau. Indonesia butuh memaksimalkan ketiga ekosistem ini sebagai garda terdepan penyerap emisi karbon.


ADHITLAN juga menambahkan bahwa di era digital saat ini milenial berperan penting dalam mengurangi jejak karbon individunya. Selain itu milenial memiliki potensi untuk mewujudkan kelestarian Blue Carbon di daerahnya masing-masing, salah satunya dengan berkolaborasi dengan lintas lini, seperti pemerintah, NGO, sampai komunitas-komunitas pro-lingkungan untuk melakukan penanaman dan perawatan Mangrove atau Lamun. Sosial media pun bisa menjadi tempat untuk mengkampanyekan hal-hal yang pro lingkungan.


Sebelumnya di hari sebelum launching, ADHITLAN juga menjadi pembicara dalam workshop Climate Vlogger di Manado, Adhitlan memberikan materi tentang "Influencer Strategy for Climate Change & Environtment". Tiap orang adalah influencer bagi teman-temannya atau pun followersnya. Ada tekik-teknik khusus untuk menjadi climate influencer agar lebih diterima banyak orang.

Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Testimonial

Facebook